Riau Siaga Darurat Bencana Asap

Pemerintah harus mewaspadai kemungkinan asap kebakaran hutan Riau menuju Singapura dan Malaysia. Pemerintah Provinsi Riau mem berlakukan status siaga darurat bencana asap mulai 23 Juni hingga 30 November mendatang. Hal itu terkait dengan kian meluasnya kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan tersebut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Said Saqlul Amri, mengatakan penetapan status siaga darurat bencana asap ditandai dengan dibukanya kembali posko satuan tugas siaga darurat di Lanud Roesmin Nurjadin sejak Selasa (24/6) sore.

Sebelumnya, posko yang sama telah digunakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada masa operasi tanggap darurat bencana asap yang melanda Riau, Februari hingga April lalu. “Kita berharap kegiatan antisipasi ini terlaksana dengan baik,“ kata Said, kemarin.

Dia menjelaskan kegiatan operasi siaga darurat yang dikoordinasikan Wakil Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rahman akan melakukan pemadaman secepat mungkin di sebaran titik api yang terpantau satelit. Kegiatan rutin pemadaman oleh satgas udara dilaksanakan mulai pagi hari dengan mengerahkan tiga helikopter, yaitu Sikorsky, Bolco, dan Kamov, untuk melakukan pengeboman air melalui udara. Selain itu, satgas darat akan mendapat bantuan pasukan pemadam kebakaran satu SKK Brimob pada setiap lokasi kebakaran.

“Hasil kegiatan dievaluasi setiap sore. Dari rapat itu akan ditentukan langkah-langkah selanjutnya,“ kata Said.

Dia menambahkan pihaknya berencana memindahkan helikopter Sikorsky yang saat ini berada di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru agar bergeser ke Bandara Pinang Kampar, Dumai. Pemindahan dilakukan agar pemadaman lebih efisien karena lokasi kebakaran terbesar saat ini berada di Rupat, Bengkalis, Dumai, dan Rokan Hilir. Dua helikopter lain tetap berada di Pekanbaru untuk menjangkau kebakaran hutan dan lahan di Pelalawan dan Kampar. BPBD Riau juga telah mengajukan permintaan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memindahkan helikopter MI 100 yang saat ini disiagakan di Sumatra Selatan supaya secepatnya diberdayakan di Riau.

Naik 400% Titik api di Riau selama memasuki musim kemarau meningkat 400%. Pantauan satelit Terra dan Aqua BMKG mencatat saat ini ada 366 titik api yang tersebar di sembilan wilayah Riau. Jumlah itu meningkat dari hari sebelumnya yang cuma 85 titik api.

Kepala Bidang Data BNPB Agus Wibowo mengatakan ratusan titik api tersebar di Bengkalis (57), Meranti (2), Dumai (59), Pelalawan (19), Rokan Hilir (221), Siak (1), Indragiri Hulu (1), Indragiri Hilir (3), dan Kuantan Singingi (3). “Kita sedang fokuskan untuk memadamkan api di Rokan Hilir. Beberapa helikopter juga sudah bergerak di lokasi yang terpantau mengalami kebakaran.“ Jumlah titik api yang terus meningkat di Riau harus terus diwaspadai. Pasalnya arah angin dominan ke timur laut dan timur. Potensi asap bisa terbawa hingga ke Singapura dan Malaysia.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan berdasarkan prakiraan BMKG, pada Juli ini hujan di daerah Indragiri Hilir, Pelalawan, dan Kuansi akan lebih rendah jika dibandingkan dengan daerah lain di Sumatra.

“Kemudian pada Agustus nanti, kondisi cuaca di Riau akan lebih kering jika dibandingkan dengan wilayah Sumatra lainnya. Hujan berkisar kurang dari 50 mm per bulan. Lahan gambut kering akan mudah sekali terbakar,“ ujarnya. (RK/DY/N-3) - Media Indonesia, 26/06/2014, halaman 11

0 komentar:

Posting Komentar